anthony bachtiar's place
(when you find me here you will search no more)

Tandem Photographer

Pernah ada beberapa teman atau mantan murid kelas fotografi datang padaku dan ingin meminjam CV (Curriculum Vitae) milikku. 
Semula aku tidak mengerti untuk apa kegunaan CV tersebut karena biasanya CV bersifat pribadi dan setiap orang pasti mempunyai CV sendiri yang tentunya isi dan pengalaman di dalamnya berbeda beda.
Akhirnya teman temanku mengatakan bahwa mereka sedang mengikuti suatu bidding atau pitching atau istilah bahasa Indonesia yang populer adalah sedang mengikuti suatu tender dalam projek pengadaan "JASA DOKUMENTASI" atau pekerjaan 'JASA PEMBUATAN FOTO" untuk Company Profile, Annual Report dan foto untuk Corporate atau  brosur brosur komersil lainnya. Menurut mereka CV milikku lebih menjual dan meyakinkan klien dibanding memakai CV pribadi mereka, khususnya terhadap klien yang dianggap besar atau klien asing karena kebetulan aku juga banyak menangani pekerjaan fotografi untuk beberapa kedutaan besar negara sahabat.
 
INTEGRITAS PHOTOGRAPHER
Seketika aku merasa  keberatan, kok mau berbisnis fotografi atau menawarkan jasa tapi memakai CV orang lain bukannya CV sendiri.
Aku pun bertanya apakah pada saat bidding dengan memakai CV dan portfolio ku, apabila nanti ternyata projek tersebut goal dan berhasil dimenangkan lalu pada akhirnya ketahuan apakah tidak ada kekhawatiran bahwa akan dianggap:

1. Berlaku tidak jujur dengan memakai CV orang lain atau portfolio orang lain yang bukan miliknya sendiri
2. Bagaimana kalau kualitas yang dihasilkan tidak sama atau tidak sesuai dengan portfolio dan pengalaman yang tertulis dalam CV tersebut
3. Bukankah soal kejujuran berbisnis itu erat kaitannya dengan integritas.   

Mereka menjawab pertanyaanku diatas dengan mengatakan bahwa CV tersebut bukanlah digunakan atas nama mereka sendiri lalu mencari keuntungan pribadi dari situ, akan tetapi mereka tetap mencantumkan namaku sebagai fotografernya dan ia membentuk team fotografer. Jadi ketika mereka melakukan presentasi kepada klien, mereka akan mengatakan bahwa team fotografer untuk pemotretan tersebut ada 2 yaitu nama temanku dan juga namaku. Selanjutnya portfolio dan pengalaman serta CV ku dilengkapi dengan CV dirinya digunakan sebagai pedukung team ini.

Akhirnya aku mengerti bahwa dengan meminjam CV ku maka aku dijadikan partner per projek pemotretan.
Temanku mengatakan bahwa dengan memakai CV ku maka dia berhasil menjual jasa foto dengan harga yang lebih baik ketimbang memakai CV nya sendiri.

Tiba tiba aku teringat sewaktu mengikuti kegiatan terjun payung dulu,  bahwa ada kegiatan terjun payung yang namanya Terjun Tandem. 
Jadi bagi kita yang sudah pernah belajar terjun payung dapat status Jump Master dan diminta membawa  penumpang atau penerjun lain secara bersamaan atau terjun bareng.  Penerjun tandem tersebut pada saat tiba di darat akan dapat sertifikat yang menyatakan bahwa yang bersangkutan sudah pernah melakukan kegiatan terjun payung (meski secara tandem).
Jadi penerjun tersebut tidak perlu berlelah lelah latihan fisik selama 3 bulan, tidak perlu berlelah lelah latihan menjatuhkan tubuh dari ketinggian 2 meter dan berguling melindungi kepala, tapi bisa langsung mengikuti kegiatan terjun payung dan dapat sertifikat pernah terjun payung.

Meski makna yang tersirat tidaklah sama, namun secara tersurat memang kegiatan fotografi seperti itu rasanya bagaikan melakukan kegiatan terjun payung tandem. Masing masing merasa diuntungkan dengan kehadiran satu sama lainnya dan sama sama mendapatkan hal yang dicari. Aku menyebutnya sebagai fotografer yang bekerja secara tandem, memberi kesenangan dan manfaat baik buat yang mengajak dan buat yang diajak.

WIN WIN SOLUTION
Akhirnya selain bekerja normal dan menggarap projek ku sendiri, pada beberapa projek fotografi tertentu aku menjadi bagian dari beberapa team fotografer untuk menggarap beberapa projek yang dibawa oleh teman-temanku. Aku yakin dengan suatu kerjasama atau kolaborasi seperti ini maka dapat tercipta pemerataan bagi fotografer yang kebetulan kelebihan order dan tidak tertampung, juga bagi fotografer yang memang waktunya lebih leluasa  atau kebetulan sedang tidak sibuk, jadi cara yang cukup memberi "win win solution". 

Para pemula yang tidak banyak pengalaman namun punya banyak channel atau koneksi, tetap bisa menjual jasa fotografinya kemana saja tanpa ragu akan hasil dan kualitas karena tidak ada salahnya mengajak guru fotografinya atau mengajak temannya seorang fotografer berpengalaman untuk berkolaborasi dalam menggarap projek fotografi. Mungkin dengan kolaborasi seperti itu team ini menjadi kuat untuk meraih peluang memenangkan tender di era persaingan fotografi yang sangat ketat. 

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh oleh fotografer pemula tersebut dengan bekerja secara tandem adalah:
1. Dengan cara ini tetap dapat menggarap projek foto diluar kemampuan fotografinya atau yang belum dikuasainya.
2. Kerjasama ini selain untuk menghasilkan uang juga sekaligus menjadi sekolah baginya buat belajar menghandle projek projek seperti ini.
2. Ia bisa menjual harga jasa fotografi tersebut dengan lebih baik sebagai harga seorang expert bukan harga pemula.
3. Ia tidak perlu disebut fotografer liar atau istilah apapun buat pemula yang tiba tiba menjadi fotografer dadakan karena ada suatu projek fotografi yang harus dikerjakannya
4. Ia mempunyai team fotografer yang tangguh dan berpengalaman 

Sementara bagi fotografer berpengalaman yang diajak kerjasama manfaat yang diperoleh disini adalah:  
1. Ia mempunyai partner marketing
2. Dalam bekerja ia mendapat partner kerja atau asisten yang serius karena ingin belajar dan dapat pengalaman
3. Ia tetap dapat mempertahankan pekerjaannya sebagai fotografer (survive)

BAGAIMANA KERJASAMA INI BERLANGSUNG
Biasanya sebelum melakukan pemotretan aku membahas detil terlebih dahulu dengan art director.
Tone lightingnya mau seperti apa misalnya rembrant light atau flat dengan hollywood style dll.
Sudut pengambilan dari mana, distorsi lensa seberapa besar atau sama sekali tanpa distorsi/ketat. 
Lalu background nya, setelah itu penempatan titik lampu studio, lalu posisi kamera, reflektor disebelah mana, prop apa saja dan akan diletakkan disebelah mana, pada saat seperti ini temanku juga ikut terlibat dan mendengarkan sehingga dia tahu persis apa maunya klien dan bagaimana arti director mengarahkan.  
Pada saat pemotretan itu berlangsung awalnya aku yang turun tangan langsung dan temanku itu menjadi asistenku untuk mengatur posisi lampu studio, atau mengecek data transfer dari kamera langsung ke komputer/laptop. 
Kalau pemotretan sudah berjalan dengan lancar dan klien merasa sudah puas dengan setting dan hasil awalnya, berhubung pekerjaan ini di handle oleh team yang terdiri atas 2 orang fotografer, maka selanjutnya siapapun yang memotret tidak masalah atau pun bergantian. 
Jadi aku punya alasan pada sesi pemotretan yang panjang ini untuk memberi kesempatan kepada temanku untuk menjadi fotografer utama sementara aku beristirahat atau bergantian aku yang jadi asisten.  

BENTUK KERJASAMA SERUPA
Akhir akhir ini ada juga teman yang mengajak kerjasama dalam bentuk:

1. Membagi frame foto dalam suatu project pemotretan.
Contohnya ketika melakukan suatu pemotretan corporate dimana yang di foto adalah board komisaris atau board direktur atau pemilik perusahaan, maka aku yang turun tangan langsung dan temanku hanya membantu jadi asisten saja sekaligus belajar.
Ketika harus memotret para manager atau staff yang tidak terlalu formal dan santai, giliran temanku yang handle dan aku boleh istirahat saja sambil mengawasi atau membantunya dari belakang kalau kalau ia menemui kesulitan atau harus melakukan pencahayaan yang tricky. Selanjutnya temanku yang menyelesaikan hingga selesai bagiannya.
Dengan kerjsama ini maka fee dari pemotretan beberapa frame foto sulit yang kukerjakan sepenuhnya untukku dan fee dari beberapa frame yang dikerjakan temanku juga sepenuhnya untuk temanku.

2. Sub Fotografer.
Dimana order pemotretan sepenuhnya diberikan kepadaku karena temanku yang menerima order sibuk sendiri dengan pekerjaan di kantornya dan tidak bisa turun tapi punya order foto. 
Maka aku yang turun tangan sendiri dan dia hanya bertindak sebagai pemberi referensi atau yang menjamin bahwa fotografer yang dicarikan olehnya terjamin kualitasnya.
Dengan cara ini temanku cukup puas dengan marketing fee yang diterimanya karena dia tidak bekerja apa apa tapi dapat bagian karena menjadi marketing person bagiku,

3. Replacement Fotografer.
Kadangkala dalam suatu pemotretan tertentu ada teman yang tiba tiba berhalangan untuk melakukan pemotretan, entah karena hal mendesak dan penting atau karena halangan lainnya.
Maka temanku meminta aku jadi replacement fotografer untuk menggantikan posisinya untuk memenuhi kontrak atau jadwal yang sudah dibuat dan tidak dapat ditunda serta tidak ada pilihan waktu lain buat temanku. Temanku hanya  memberi tahukan pekerjaannya seperti apa, permintaan klien bagaimana , siapa yang harus ditemui dan dimana serta jam berapa.
Biasanya untuk pekerjaan ini temanku membagi porsi terbesar untukku karena aku yang bekerja, dan dia mendapat bagian selebihnya.

4. Asosiasi Fotografer.
Asosiasi fotografer biasanya dibentuk oleh beberapa orang fotografer yang mempunyai misi yang sama dan bertujuan untuk saling menjaga dan membagi pekerjaan apabila kelebihan job atau mendapat job di saat saat kekurangan. Dengan asosiasi ini, maka kualitas mereka dapat dijaga dengan mengadakan sharing atau sarasehan dan dicari anggota yang mempunyai kelebihan atau pengalaman berbeda beda.
Kadang teman yang berpengalaman minim tapi punya order banyak juga biasanya ikut bergabung untuk membentuk team.
Akhirnya melalui asosiasi, order foto tidak hilang atau dihandle group lain karena bisa di share atau dibagikan diantara mereka.

Pada kesimpulanku, mungkin di era persaingan fotografi yang sangat ketat ini membentuk sindikasi atau asosiasi fotografer akan sangat bermanfaat. Kalaupun tidak secara formal mungkin dengan kerja tandem seperti ini akan membuat fotografer saling membantu. Saya ingin mengatakan, kalau menemui kesulitan mengapa harus dihadapi sendiri, mengapa tidak mengajak rekan atau teman agar beban dapat dibagi dan penghasilan tidak hilang bahkan dinikmati bersama.

Best Regards
Anthony Bachtiar
There's no limit in this life, just wished and be there.



masopang wrote on May 13
menarik bang tony....

tfs nih u/ belajar bisnis dari fotografi
chatfly wrote on Jun 6
ach so.....
TFS bang tony
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help