BEPERGIAN SECARA BACKPACKER ADALAH PILIHAN CARA BEPERGIAN, BUKAN PERTIMBANGAN EKONOMIS SEMATA. BANYAK ROMANTISME PERJALANAN YANG INDAH DAN PENUH KENANGAN YANG TIDAK DAPAT DIPEROLEH PADA PERJALANAN TOUR BIASA.
Jadi kalau semula aku mengira bahwa mereka yang bepergian secara backpacker adalah semata hanya untuk mengirit biaya perjalanan ternyata perkiraanku adalah salah besar, karena dibalik perjalanan yang murah, tidak terlalu diatur ketat dan bebas tersebut tersembunyi kenangan, romatisme perjalanan dan petualangan yang tidak mungkin diperoleh dengan cara bepergian dengan tour biasa yang semua serba teratur dan terjadwal lewat biro perjalanan umum.
BERMULA DARI SEBUAH UNDANGAN
Siang itu aku menerima telepon dari Dita seorang teman lama yang dulu pernah sama sama bekerja di Biro Hukum MHD menelepon dan mengundangku untuk ikut trip dengannya ke Macau selama 5 hari.
Menurut jadwal meeting dengan klienku dan advokasi yang harus kulakukan ternyata masih cukup banyak waktu yang dapat kupakai maka aku langsung setuju lagi pula aku belum pernah mengunjungi Macau dan mereka juga menawarkan suatu trip yang berbeda dari trip biasa yang sering kuikuti selain itu harga trip yang ditawarkan oleh Dita juga sangat murah, sehingga aku tidak yakin apakah dengan biaya murah seperti itu bisa tercover biaya bepergian selama 5 hari termasuk tiket pesawat, lokal tour dan makan selama perjalanan.
Backpacker's way, begitulah menurut Dita yang aku sendiri tidak pernah tahu seperti apa bentuknya dan bagaimana caranya. Yang kudengar seorang backpacker lebih menikmati pemandangan alam dan objek objek wisata dengan berjalan kaki atau naik kendaraan umum ketimbang di antar- jemput pakai Coach Bus.
Meski tidak dapat membayangkan seperti apa perjalanan itu, tapi kupikir tidak ada salahnya kali ini mencoba cara tersebut barangkali dapat memberi pengalaman baru dan kesan tersendiri.
BERTEMU TEMAN TEMAN BARU
Selasa malam itu aku menerima undangan untuk bertemu dengan sesama peserta trip ini dalam suatu technical meeting.
Suatu pengalaman baru karena sebagian peserta adalah mereka yang rata rata berusia muda, energik dan penuh semangat berpetualang. Jauh sekali berbeda dengan trip trip yang selama ini sering ku ikuti sebelumnya dimana para pesertanya kebanyakan mereka yang sudah cukup mapan, berusia banyak dan rata rata hanyalah mengisi waktu pensiun mereka dengan berlibur.
Setidaknya aku merasa punya teman sebaya dalam perjalanan ini. Penampilan para peserta pun cukup unik, banyak mereka yang tampil dengan kostum untuk outdoor dengan celana model cargo, membawa ransel day pack dipundaknya dan berbicara secara langsung blak blakan tanpa memikirkan apakah yang mendengar siap atau tidak. Tapi buatku meski awalnya kurang nyaman tapi akhirnya bisa menerima cara cara ini sungguh suatu kontradiksi dengan rekan rekan kerjaku di biro hukum yang lebih banyak berbicara secara diplomatis, berputar putar dan seringkali memakai topeng dan bersembunyi dibalik kata kata. Akupun bertambah teman lagi, ada Maya yang menjadi tour leader group ini, lalu Ricardo yang berbadan gemuk dan besar tapi semangat berpetualangnya tinggi lalu ada Sisca yang mungil, ada Mira yang sangat tomboy dan ada juga Linda seorang teman baru yang mengkritik caraku berpakaian yang katanya terlalu formal untuk pertemuan semacam itu. Suatu kejutan lagi buatku karena selama ini tiada seorang pun di lingkungan kerja atau pergaulanku yang berani mengkritikku, hanya Linda satu satunya yang berani melakukan hal itu.
MEMBAWA RANSEL DAN MEMAKAI SEPATU TRACKING
Sebenarnya lebih mudah bagiku membeli koper cantik atau sepatu kulit yang mengkilap bila dibandingkan harus membeli ransel dan sepatu tracking. Dalam kebingungan itu akhirnya Linda menawarkan bantuannya untuk menunjukkan tempat tempat yang menjual perlengkapan tersebut. Sehingga akhirnya aku berkenalanlah dengan yang namanya ransel bermerek Karrimor atau Rucksack atau sandal dan sepatu gunung bermerek Ecco atau Mountain Wolf dan sebagainya.
Semua perlengkapan baru itulah yang kupakai dalam perjalanan ke Macau, aku yang biasanya disebut sebagai eksekutif di kantor kini jadi seorang outdoor person dengan penampilan yang baru.
Hampir sebagian peserta juga berpenampilan seperti diriku hanya bedanya mereka petualang outdoor sejati dan aku hanyalah seorang outdoor dadakan.
Perjalanan dini hari yang dimulai dari Jakarta hingga tiba di Macau berjalan lancar lalu disambung dengan Jetfoil menyeberang ke Hongkong, sepanjang jalan kusaksikan wajah antusias dan penuh semangat dan hal yang menarik perhatianku adalah setiap kali ada tempat yang tampak bagus sedikit langsung saja beberapa dari peserta langsung berfoto disana seakan tidak mau kehilangan kesempatan dan uniknya hampir semua peserta adalah camera face alias tidak boleh melihat ada orang berfoto langsung semua bergabung ikut dengan gaya masing masing. Maya sebagai tour leader berbisik kepadaku sambil minta maaf kalau semua teman temannya termasuk dirinya adalah para foto narcissist yang senang sekali kalau difoto.
Perjalanan model Backpacker yang semula kukira adalah hanya sebuah perjalanan ala kaki lima karena mengejar murah, setelah kualami sendiri ternyata adalah perjalanan yang banyak memberi makna persahabatan, persaudaraan dan kekompakan serta yang paling kurasakan adalah toleransi. Mereka mempunyai toleransi yang sangat tinggi dalam segala kondisi khususnya di saat saat mengalami kesulitan atau hambatan dalam perjalanan. Manusia dalam keadaan tertentu akan tampak aslinya, tabiatnya dan karakternya, dalam perjalanan ini meski tampak aslinya seorang pemarah atau temperamental tetapi karena toleransi yang tinggi setiap permasalahan dan perselisihan akan dengan mudah diselesaikan dengan cepat dan dengan cara yang simpatik.
Mereka saling menjaga satu sama lain, demikian pula aku mendapat perhatian yang sangat baik dari Maya dan khususnya dari Linda yang selalu mendampingiku dan membuka mataku makna perjalanan ala backpacker dan menjadi seorang backpacker adalah selain mereka membawa BACKPACK mereka juga WATCH EACH OTHER BACK (saling melindungi satu sama lain).
MERASAKAN DAN MENJADI BAGIAN DARI MEREKA
Dulu ketika aku bepergian sebagai turis dengan biro perjalanan resmi yang serba teratur, sering kulihat banyak turis turis yang berjalan membawa ransel besar dipunggung tampak gagah dan bersemangat. Aku cuma berbisik dengan nada sinis kepada teman sesama peserta tour. Apakah mereka kurang pekerjaan mau berlelah lelah membawa ransel besar, sesekali membaca peta dan bertanya tanya kiri kanan dengan bahasa yang kadangkala orang yang ditanya juga tidak mengerti apa yang ditanya sehingga keduanya tampak bingung karena perbedaan bahasa.
Siang itu setibanya kami di Hongkong, kami tidak dijemput oleh tour bus tapi harus berjalan membawa ransel atau trolley bag kami masing masing mulai dari pelabuhan ferry hingga menuju stasiun MTR. Tidak ada yang melayani kami tapi masing masing membawa barang sendiri, memegang tiket MTR sendiri sendiri dan setelah itu mencari cari kereta yang menuju penginapan kami.
Maya sebagai tour leader salah mendapat informasi tentang penginapan kami, yang seharusnya keluar di pintu D2 stasiun Mongkok ternyata Maya memilih pintu C4 dan membuat kami harus mencari cari dan berjalan sejauh 200 meter untuk mencapai penginapan. Aku dan Dita agak kecewa kepada Maya sebagai tour leader sampai bisa membuat kesalahan sehingga kami harus berjalan ekstra sejauh 200 meter membawa bawa ransel dan trolley berjalan dengan bingung bagai seorang turis yang sedang tersesat dan kehilangan arah.
Linda yang selalu memperhatikan aku berbisik bahwa dalam perjalanan seperti ini segala hal diluar rencana itu bisa saja terjadi, kadang melelahkan atau kadang membuat tidak nyaman. Rata rata mereka mempunyai toleransi yang tinggi sehingga tiada seorangpun dari mereka yang komplain karena mereka mengerti bahwa semua hal itu bukanlah disengaja.
Mereka mengganggap setiap peristiwa yang terjadi baik menyenangkan atau mengesalkan adalah suatu pengalaman baru dan suatu petualangan yang mungkin tidak akan pernah terjadi pada perjalanan tour normal, tapi apakah hidup akan indah kalau dalam semua hal berjalan serba teratur dan mulus tanpa pernah mengalami hambatan atau kesultan .
Aku mulai merasakan dan melihat betapa indahnya kalau hidup itu ada perjuangan dan tiap kesulitan dapat diatasi dengan kebersamaan bukan dengan mencari kesalahan orang lain atau menyelesaikannya dengan komplain dan kemarahan.
MENGENAL KEHIDUPAN SUATU KOMUNITAS
Selama perjalanan meskipun Maya sebagai tour leader memperhatikan aku, namun dia juga sangat sibuk memperhatikan peserta lainnya.
Hanya Linda lah yang sering menjadi pendampingku karena dia tahu kalau aku adalah pendatang baru di komunitas itu dan pertama kali menjadi seorang backpacker.
Dari Linda dan teman temannya aku banyak belajar untuk bertoleransi, melihat suatu masalah bukan sebagai rintangan tapi sebagai ujian dan cobaan. Kalau Maya sebagai tour leader membuat kesalahan ternyata para anggotanya tidak menyalahkan bahkan mereka berusaha bagaimana mengantisipasi dan mencari solusi atas kesalahan tersebut.
Hari demi hari aku jadi terbiasa untuk menjalani cara hidup backpacker ini yang ternyata sunguh menarik dan tidak membosankan.
Aku tidak pernah membayangkan bisa mengikuti tour seperti ini dan terlibat didalamnya.
HAL HAL UNIK DALAM PERJALANAN
Pada hari ke 2 kami semua dijemput bus dan dilanjutkan dengan perjalanan memakai kereta listrik menuju Shenzhen. China.
Disini aku mengalami suatu pengalaman baru yang unik, karena ketika memasuki daratan China passport para peserta hanya di periksa saja dan tidak diberi cap peserta demi peserta.
Tapi cap tersebut diberikan pada semacam daftar peserta group yang terdiri atas nama nama kami semua dan untuk masukpun harus sesuai dengan nomor urut yang tertera disana.
Dengan demikian kami tidak bisa keluar masuk China sendirian tapi harus selalu dalam bentuk group, apabila satu peserta dalam daftar tidak ada maka kami semua tidak bisa masuk ke atau keluar dari China.
SEORANG TEMAN PERJALANAN
Hari hari pun berlalu mulai dari perjalanan ke Shenzhen hingga ke Guangzhou dan kembali lagi ke Macau, banyak hal baru yang kulihat dan kurasakan selama ini. Selama perjalanan aku lebih sering menghabiskan waktu dan berbagi cerita dengan Linda mulai dari menu makanan mana yang paling enak sampai membahas tour guide lokal yang dianggap menyebalkan oleh sebagian peserta karena tidak tahu apakah di kota propinsi sebesar Guangzhou tersedia Money Changer atau tidak serta dimana mesin ATM terdekat dengan objek wisata yang kami kunjungi.
Sekian lamanya kami bersama dalam perjalanan ini meski dengan peserta lain aku juga cukup akrab tapi aku lebih merasakan adanya sesuatu kedekatan yang terjadi antara aku dan Linda.
Aku tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi diantara kami atau kah itu hanya perasaanku saja, namun kutahu pasti bahwa ada jalinan benang benang asmara yang halus antara aku dengannya.
Setiap tempat yang kami kunjungi dan setiap objek wisata yang kami lihat pun tampaknya menjadi tempat bagi kami untuk berbagi canda dan tawa serta keceriaan.
Tiada waktu yang terasa hilang atau terbuang percuma karena kehadirannya.
TENTANG KITA
Perjalanan pun hampir berakhir, ketika kami mulai membereskan pakaian dan barang barang belanjaan kami di Macau mulai dari dendeng manis buatan Macau hingga makanan yang terbuat dari kacang dan buah buahan kering. Kalau selama perjalanan serasa waktu berhenti dan begitu panjang, namun di saat saat seperti ini rasanya waktu berlari begitu cepat dan singkat sehingga tanpa kami sadari kami sudah duduk dalam pesawat untuk kembali pulang ke Jakarta.
Akupun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Linda, "how about us" apakah saat di Jakarta nanti kita akan tetap berbagi tawa, canda dan suka duka seperti dalam perjalanan ini atau mungkin ini harus berakhir saat kita mendarat di Jakarta.
Linda terdiam sesaat dan akhirnya dia menjawab bahwa apa yang terjadi diantara kita tidak akan berlanjut bila tiba di Jakarta, meskipun semua terasa indah bagi kita berdua namun ini harus berakhir. Linda mengakui bahwa sejujurnya dia juga menikmati kesenangan, kegembiraan selama berjalan bersamaku, bahwa kalau memang mungkin dia juga pastilah akan memilih aku. Namun semua ini baginya menjadi "complicated" karena dia harus kembali ke dunianya dan aku juga harus kembali ke duniaku semula. Aku sudah punya seorang kekasih di Jakarta lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah foto dari tas nya, disana tampak seorang pemuda berperawakan tinggi dan besar sedang tersenyum dengan gagahnya memakai "outdoor outfit" seperti celana cargo, bandana merah di kepalanya dan juga jam tangan waterproof yang besar.
Aku hanya dapat tersenyum, meski senyumku terasa sangat pahit dan kuucapkan terimakasih karena telah membawaku dengan indah dan manis kedalam suatu komunitas yang tampak dari luar bagaikan urakan, bebas dan tidak beraturan tapi didalamnya mereka adalah orang orang yang teguh, penuh percaya diri, bertoleransi tinggi dan saling menjaga satu dengan lainnya.
Aku pun bangga karena pernah merasakan jadi bagian dari mereka dan mengetahui bagaimana rasanya bepergian dengan hati dan perasaan.
Dan disaat sebelum berpisah aku hanya melantunkan sebuah lagu untuk Linda karya Jason Wade tentang suatu perjalanan dan petualangan berjudul "YOU BELONG TO ME" (
http://loneknight.multiply.com/music/item/21 )
You Belong To Me
See the pyramids along the Nile
Watch the sunrise from the tropic isle
Just remember darling all the while
You belong to me
See the market place in old Algiers
Send me photographs and souvenirs
Just remember when a dream appears
You belong to me
And I'll be so alone without you
Maybe you'll be lonesome, too
Fly the ocean in a silver plane
See the jungle when it's wet with rain
Just remember 'til you're home again
You belong to me
And I'll be so alone without you
Maybe you'll be lonesome, too
Fly the ocean in a silver plane
See the jungle when it's wet with rain
Just remember 'til you're home again
You belong to me